by

Mengungkap Misteri Asal Usul Mbah Buyut Pelet Bendungan Rentang Jatitujuh Majalengka Jawa Barat.

Majalengka – majamisteri.com – Bendungan Rentang merupakan salah satu bendungan yang terbesar di Jawa Barat khususnya di kota Majalengka. Lokasinya berjarak sekitar 30 Km dari pusat Kota Majalengka, tepatnya berada di Dusun Rentang, Desa Panongan, Kecamatan Jatitujuh – Kabupaten majalengka – provinsi jawa barat.

Yang Sekarang menjadi tempat wisata murah meriah karena Anda tidak perlu membayar untuk masuk ke area bendungan ini. Bendungan ini pertama kali di bangun pada tahun 1982 oleh konstruktor Perancis dan bekerjasama dengan salah satu kontraktor lokal. Tujuan utama dibangunnya bendungan ini adalah untuk menampung aliran sungai-sungai besar yang ada di Jawa Barat. Sungai-sungai tersebut diantaranya yaitu sungai Citarum, sungai Cimanuk, dan sungai kecil lainnya yang ada di sekitar bendungan ini.

Luas bendungan ini sekitar 6.059 km persegi. Bisa Anda bayangkan seberapa besar bendungan ini? Tidak salah memang jika bendungan ini dikatakan terbesar di daerah Jawa Barat. Bendungan ini juga mencakup 4 kabupaten sekaligus di Jawa Barat yaitu Majalengka, Indramayu, Sumedang, dan juga Garut. Sebagai bendungan yang terbesar, Bendungan Rentang ini memang menjadi salah satu tempat wisata murah bagi warga sekitar. Setiap harinya bendungan ini pasti ramai dikunjungi oleh para warga untuk bersantai.

“Menerurut kepercayaan warga sekitar bendungan tersebut konon menyimpan sejarah mistis, kami mencoba menguak tabir sejarah mistis tersebut dan dipertemukan dengan Pa Husen (63) yang menurut warga sekitar beliau adalah kuncen (Mbah buyut Pelet atau nama aslinya nistara nitro dirjo). bahwa mbah buyut pelet yang konon dalam sejarahnya beliau bukan penduduk asli setempat, melainkan dari jaman kerajaan mataram.”papar Husen” Kamis (29/4/2021).

Masih kata Husen (63) konon katanya beliau pergi dari kerajaan mataram karena kalah taruhan. hingga dirinya memilih untuk pergi keluar pulau. dan menetap untuk bertapa di dekat kali cimanuk. dalam pengembara anya beliau memsiarkan dan memberikan pengetahuan tentang ilmu kesaktian terhadap masyarakat setempat, dan di dalam pemantapan dirinya beliau bertapa atau bersemedi dengan ketulusan hati selalu bermunajat kepada sang maha pencipta alam semesta, agar supaya dapat memenuhi janji taruhanya dengan gigih dan tulus terus bermunajat dan merenung akan kesalahanya, dalam pertapaanya beliau diberi petunjuk supaya mancing dikali cimanuk yang sekarang terkenal dengan bendungan rentang.”Papar Husen.

Dalam pemaparan Husen (63) juga menambahkan dalam sejarahnya mbah buyut pelet memancing dibendungan cimanuk yang sekarang dikenal warga dengan sebutan bendungan rentang, dalam pemacinganya mbah buyut pelet, dapat ikan besar istilah masyarakat setempat namanya (ikan tagih) dan waktu dirinya mengolah ikan tagih tersebut, merasa kaget karna di dalam tubuh ikan tersebut dikira ada telur, ternyata sebuah batu yaitu batu “berlian” yang sangat berharga.

Akhirnya mbah buyut pelet dapat memenuhi janji taruhan kepada saudaranya, dan beliau kembali lagi menetap di pinggiran kali cimanuk sampai beliau meninggal dunia di tempatnya. masyarakat mengenalnya sekarang dengan nama (bendungan rentang). alamat blok rentang Desa Beber kecamatan ligung majalengka dan sekarang ramai di kunjungi penziarah seantero jagad dari berbagai pelosok.” Papar Husen.

Bapak Husan (63) sebagai pengurus makam keramat mbah buyut pelet berpesan pada pejiarah makam tersebut dilarang melanggar pantrangan untuk memakan (ikan tagih) karna mitos sajarah seperti itu.”Pungkas Husen.

Kami menarik kesimpulan dari peristiwa sejarah yang telah di sampaikan diatas oleh pa kuncen Husen (63), agar dalam kehidupan kita sehari-sehari tetap harus mensyukuri nikmat yang Allah swt berikan pada kita, karena setiap manusia sudah ditentukan garis takdirnya masing”, Sejarah merupakan simbol agar supaya kita selalu waspada dan jangan gelap mata, hindari bentuk maksiat dan perjudian apapun itu namanya.” sang pencipta semesta Alam tidak tidur pada semua umatnya, mudah – mudahan setiap langkah kita selalu dalam lindungan Allah Swt dan kita tidak termasuk dalam golongan itu amin…amin ya robal alamin.”

Penulis :

(Andi Komala).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed